Laman

Manstrab gan!!!!. Diberdayakan oleh Blogger.

Me on Facebook

Kategori

Selasa, 05 April 2011

postheadericon Taukah Anda apakah makna dan konsekuensi dari dua kalimat syahadat?[2]


Segala puji hanya bagi Allah Tuhan Semesta Alam, Kami memuji-Nya dengan segala pujian. Engkaulah yang memberikan Kami hidup dan Engkau pula yang mematikan kami. Kami bersyukur padaMu atas segala nikmat terutama nikmat waktu dan kesempatan sehingga kami bisa melanjutkan tulisan ini dan memberikan manfaat bagi kaum Muslimin.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

Berkaitan dengan makna kalimat syahadat kedua yaitu “Muhammadarrasulullah” yang kebanyakan kaum Muslimin tidak menjalankan konsekuensi atas kalimat ini yang telah dan bahkan sering mereka ucapkan dari lisan mereka . Ini adalah pemandangan yang dipertontonkan di hadapan mereka tapi mereka tidak pernah terbetik di hati mereka untuk ingin mengetahui bagai mana sebenarnya syariat menetapkan hal ini.

Ketika seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat maka ia telah berada dalam agama yang mulia yaitu dienul Islam, di mana setiap manusia akan memperoleh kemulian dengan berjalan di atas dien ini. Tentunya kemulian itu akan didapatkan jika halnya mereka memuliakan dien ini dengan memahami setiap apa yang Allah dan Rasul-Nya kehendaki. Dalam hal ini kalimat syahadat “Muhammadarrasulullah ” telah mengikat mereka dengan berbagai konsekuensi yang harus mereka jalani agar mereka termasuk ke dalam golongan kaum Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam sebagai mana dalam hadits Rasulullah

“Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku”[HR.Bukhari dan Muslim].

Termasuk di dalamnya adalah mereka yang enggan melaksanakan Sunnah Rasulullah setelah mereka mengetahui ilmunya dan lebih senang melaksanakan adat istiadat yang bertentangan dan tidak pernah dicontohkan dalam Sunnah. Maka berhati-hatilah engkau wahai saudari/iku yang suka menentang atau mengabaikan Sunnah Rasulullah. Mulailah dari sekarang untuk menjadi manusia yang kritis, yaitu tidak akan beramal dengan amalan yang tidak pernah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam contohkan dalam Sunnahnya. Koreksi setiap amalan yang kalian lakukan apakah ada contohnya dari Rasulullah atau tidak, dan jika ada apakah telah sesuai dengan yang dicontohkan Beliau?
Dengan seseorang telah mengucapkan syahadat kedua yaitu “Muhammadarrasulullah ” maka ia harus mencintai Rasulullah dan siap menjalankan konsekuensi dari cintanya itu yaitu seperti yang telah dijelaskan point-pointnya pada tulisan sebelumnya pada konsekuensi syahadat “Muhammadarrasulullah”.


1. Mencintai Rasulullah
Mencintai Rasulullahmengharuskan adanya pengagungan, memuliakan, meneladani beliau dan mendahulukan sabda beliau shallallahu’alaihiwasallam atas segala ucapan makhluk serta mengagungkan Sunnah-sunnahnya. Namun sekarang yang terjadi adalah sebaliknya, banyak di antara kaum Muslimin mempertontkan sikapnya yang mendahulukan pendapat seorang ustadz,kiyai,habaib,dan selainnya di atas Sabda Nabi. Mereka mendahulukan perkataan makhluk dari pada mendahulukan wahyu yang Rasulullah ucapkan atas izin Allah. Inikah bukti kecintaan kita kepada Rasulullah?
Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat[49]:1 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui."[ Al-Hujuraat(49):1 ]

2. Mentaati apa yang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam perintahkan.
Jika kita mengakui diri kita mencintai Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam maka tunjukkanlah bahwa kita mentaati setiap apa yang Beliau perintahkan dan menjauhi setiap apa yang Beliau larang karena tidak lain apa Beliau ucapkan adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepada Beliau. Dan ketahuilah sebab seseorang dimasukkan ke dalam surga adalah taat kepada Beliau. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa’ :13
تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar."

3. Membenarkan apa yang Beliau Shallallahu’alaihiwasallam sampaikan.

Allah berfirman dalam surat An-Najm(53):3-4
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىإِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
"dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

Menahan diri dari apa yang dilarang dan dicegah oleh Beliau shallallahu’alaihiwasallam
Allah berfirman dalam surat Al-Hasyr[59]:7
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُوَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"...Apa-apa yang deberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya."

Beribadah sesuai dengan apa yang beliau shallallahu’alaihiwasallam syari’atkan, atau dengan kata lain ittiba’ kepada beliau shallallahu’alaihiwasallam.
Agama Islam telah sempurna, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam diututs oleh Allah untuk mengajarkan ummat islam tentang bagaimana cara yang benar dalam beribadah kepada Allah, dan beliau telah menyampaikan semuanya. Oleh karena itu, ummat Islam wajib ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam agar mereka mendapatkan kecintaan Allah , kejayaaan dan dimasukkan ke dalam Surga-Nya.


Perhatikanlah saudara/iku. Di antara cinta kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya. Termasuk cinta kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam adalah menolak dan mengingkari semua bentuk ibadah yang dibuat-buat di dalam masyarakat yang dikenal dengan bid’ah, karena ketahuilah bahwa setiap bid’ah(dalam hal agama) adalah sesat.

Segala puji Bagi Allah,semoga yang membaca tulisan ini bisa menyampaikannya kepada yang tidak dapat membacanya, semoga Allah memberikan kita Taufiq dan hidayahnya sehingga yang samar-samar menjadi jelas dan kita di hantarkan di atas jalan yang haq.

Wallahua'lam. Tulisan ini Insya Allah masih belum selesai. Semoga Allah masih memberikan kami waktu luang dan kesehatan untuk dapat melanjutkan tulisan ini.

ditulis di Jakarta, 9 Jumada2,1431 H
Hamudi bin Abdurrahman

Sumber tulisan : Di ambil dari kitas Syarah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas, pustaka Imam Asy-Syafi'i dengan sedikit perubahan dari penulis artikel.
Baca Lengkap Gan..

Minggu, 03 April 2011

postheadericon Taukah Anda apakah makna dan konsekuensi dari dua kalimat syahadat?


Bismillahirrahmanirrahim




Segala Puji hanya bagi Allah,Kami memuji-Nya, karena dengan izin-Nya kami masih bisa menuliskan tulisan yang bermanfaat bagi kaum Muslimin, Insya Allah. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.



Kerap terdengar ditelinga kita seseorang muslim mengucap Laa Ilaaha Illallah Muhammadarrasulullah dalam dzikir-dzikir mereka. Namun sungguh sangat disayangkan apabila ia mengucapkannya tanpa tau bahakan tanpa mautau makna dari apa yang ia lontarkan dari kedua bibirnya.



Padahal dua kalimat syahadat ini merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Dan ketahuilah, bahwa diterimanya amalan seseorang tidak hanya dengan mengucapkan duakalimat syahadat, tapi ia harus siap dengan semua konsekuensi dari mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.




Kedua kalimat syahadat ini memiliki makna, syarat-syarat , dan rukun-rukun yang harus diketahui, diyakini, diimani, dan diamalkan oleh seluruh kaum Muslimin.

  • Makna Laa ilaaha illallah Kalimat Laa ilaaha illallah memiliki makna yaitu beri'tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, menta'ati hal tersebut dan mengamalkannya. La ilaaha berarti menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya dan apapun bentuknya, sedangkan Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah. [At Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali,Syeikh bin Baz] Secara garis besar berarti “Tidak ada sesembahan yang yang berhaq diibadahi dengan benar kecuali Allah” karena tuhan yang diibadahi selain Allah sangat banyak sekali, tetapi yang haq adalah hanya satu yaitu Allah semata. Kemudia ada kata-kata “dengan benar” dimaksudkan bahwa Allah mencintai para hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya sesuai dengan cara yang Ia perintahkan baik secara langsung yang ada di Al-Qur’an maupun melalui Sunnah Nabi-Nya dan dan Ia murka pada para hamba-Nya yang beribadah dengan ibadah yang tidak Ia perintahkan. Dari pengertian makna dua kalimat syahadat ini ternyata banyak kaum Muslimin yang menafsirkan duakalimat syahadar dengan tafsiran yang batil dan fatal, maka di sini kami menasihati kaum Muslimin seluruhnya untuk tidak menafsirkan 2 kalimat syahadat dengan tafsiran di bawah ini
  1. Menafsirkannya dengan Laa ma’buda illallah(tidak ada yang diibadahi kecuali Allah ), padahal kalimat ini menunjukkan bahwa setiap yang diibadahi , baik benar maupun salah,berarti Allah
  2. Tidak ada pencipta kecuali Allah, padahal makna tersebut meupakan sebagian dari makna Laa ilaha Illallah yaitu masuk ke dalam Tauhid Rububiyah saja, sehingga belum cukup. Hal inilah yang juga diyakini oleh orang-orang musyrik yang hanya meyakini Allah sebagai pencinta segala suatu tetapi mereka selain beribadah kepada Allah juga mereka beribadah kepada batu, pohon, matahari,dll. Mereka ketika ditanya “Mengapa kalian menyembah batu” maka mereka menjawab “Kami tidak menyembah batu ini tetapi kami menjadikannya sebagai perantara kami dengan Allah”. Jika kita lihat para pemuja kubur dan pencari berkah pada tempat-tempat atau pada benda yang mereka anggap mendatangkan berkah saat ini tidak beda jauh jawaban mereka dengan kaum musyrikin zaman dulu. Meskipun mereka beralasan tidak menyembahnya yaitu apa-apa selain Allah tetapi Rasulullah tetap menyatakan mereka jatuh pada perbuatan syirik dan inilah yang Rasulullah perangi di zaman beliau dan ikuti oleh para Sahabat.
  3. "Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah". Ini juga sebagian dari makna kalimat " Laa ilaaha illallah ". Tapi bukan itu yang dimaksud, karena apabila mengesakan Allah hanya dengan pengakuan atas sifat Allah Yang Maha Penguasa saja namun masih berdo’a kepada selain-Nya atau menyelewengkan tujuan ibadah kepada sesuatu selain-Nya, maka hal ini belum termasuk definisi yang benar.
  • Makna Syahadat "Anna Muhammadan Rasulullah"
  1. Mentaati apa-apa yang beliau perintahkan.
  2. Membenarkan apa-apa yang beliau sampaikan
  3. Menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau larang
  4. Tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan cara yang telah disyari’atkan. Artinya, kita wajib beribadah kepada Allah menurut apa yang disyari’atkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihiwasallam, kita wajib ittiba’ kepada beliau shallallahu ‘alaihiwasallam.
Insya Allah penjelasan ini masih berlanjut pada tulisan berikutnya, semoga Allah masih meberikan kesempatan waktu dan umur untuk melanjutkan tulisan ini . Kami berlindung dari segala keburukan dan kejahatan makhluk-Nya dan kami mengembalikan semua urusan kepada Allah semata. Semoga Allah memberikan hidayah berupa taufiq kepada kita semua. Allahul Musta’aan nas’alullaahal ‘afwa wal ‘aafiyah. Ditulis di Jakarta, 8 Jumada 2 ,1431H Hamudi bin Abdurrahman as-Salafy [Diambil dari sebagian kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah,ust.Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan pustaka Imam Asy-Syai’i, dan penjelasan dari Syeikh bin Baz dalam kitab At Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali],.Af1 kalo ada yang salah tulis tolong di ingatkan,.
Baca Lengkap Gan..

Sabtu, 02 April 2011

postheadericon Bertepuk Tangan Merupakan Perbuatan Jahiliyah

Pertanyaan



Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah bertepuk tangan dalam suatu acara atau pesta diperbolehkan, ataukah itu termasuk pebuatan makruh?



Jawaban



Bertepuk tangan dalam suatu pesta merupakan perbuatan jahiliyah, dan setidaknya perbuatan itu adalah perbuatan yang makruh. Tetapi secara jelas dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur'an menunjukkan bahwa hal itu adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam; karena kaum muslimin dilarang mengikuti ataupun menyerupai perbuatan orang-orang kafir. Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman tentang sifat orang-orang kafir penduduk Makkah,"Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan." [Al-Anfal: 35]



Para ulama berkata, "Al-Muka' mengandung pengertian bersiul, sedangkan At-Tashdiyah mengandung pengertian bertepuk tangan. Adapun perbuatan yang disunnahkan bagi kaum muslimin adalah jika mereka melihat atau mendengar sesuatu yang membuat mereka takjub, hendaklah mereka mengucapkan Subhanallah atau Allahu Akbar sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam .



Bertepuk tangan hanya disyariatkan khusus bagi kaum wanita ketika mendapatkan seorang imam melakukan suatu kesalahan di dalam shalat saat mereka melaksanakan shalat berjamaah bersama kaum pria, maka kaum wanita disyariatkan untuk mengingatkan kesalahan imam dengan cara bertepuk tangan, sedangkan kaum pria memperingatkannya dengan cara bertasbih (mengucap kata Subhanallah) sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam . Maka jelaslah bahwa bertepuk tangan bagi kaum pria merupakan penyerupaan terhadap perbuatan orang-orang kafir dan perbuatan wanita, sehingga bertepuk tangan dalam suatu pesta -baik kaum pria maupun wanita- adalah dilarang menurut syariat. Semoga Allah memberi petunjuk.



[Fatawa Mu'ashirah, hal. 67, Syaikh Ibn Baz]

Baca Lengkap Gan..

postheadericon Telinga yang Lalai dari Mengingat Allah


Dari Nafi’ maula Ibnu Umar radliyallahu’anhuma:

“Bahwasanya Ibnu Umar radliyallahu’anhuma pernah mendengar suara seruling seorang penggembala. Maka beliau (Ibnu Umar) meletakkan kedua jarinya di telinganya lalu mencari jalan lain. Ibnu Umar berkata: ‘Wahai Nafi’ ! Apakah kamu mendengarkan suara ini?’ Maka aku menjawab: ‘Ya!’ Dan beliau selalu mengatakan demikian, sampai aku mengatakan: ‘Saya tidak mendengar lagi!’ Lalu Ibnu Umar: ‘Saya pernah melihat Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam mendengar seruling penggembala lalu beliau melakukan seperti ini’” (Atsar Shohih, Dikeluarkan Imam Ahmad 4535-4965, dan lain-lain dishohihkan Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Al-Albani dalam Tahrimu Alatu Thorbi hlm. 116)

Atsar ini menunjukkan betapa besarnya semangat para sahabat radliyallahu’anhum dalam menjaga pendengaran, diantaranya tidak mendengarkan alunan musik, serta selalu beruswah kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Anehnya atsar ini kadang malah dijadikan dalil tentang bolehnya mendengarkan nyanyian.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa 30/212:

Hadits tersebut -jika memang shohih- maka tidak bisa dijadikan dalil dibolehkannya mendengarkan nyanyian musik, bahkan larangan tersebut lebih utama dikarenakan beberapa segi:



  1. Yang diharamkan adalah “mendengarkan” bukan hanya “sekedar mendengar”. Seseorang jika mendengar kekufuran, ucapan dusta, ghibah (gunjingan), celaan, serta musik dan nyanyian tanpa adanya niat/maksud untuk mendengarkan -seperti seseorang yang hanya sekedar lewat jalan tersebut lalu mendengar suara nyanyian- maka orang tersebut tidaklah mendapatkan dosa dengan kesepakatan kaum muslimin. Dan kalau seandainya ada seseorang yang berjalan lalu mendengar bacaan al-Qur’an tanpa mendengarkannya terhadap bacaan tersebut maka dia tidak mendapatkan pahala. Dan dia akan mendapatkan pahala jika dia mendengarkan dan memperhatikan bacaan tersebut yang ia maksudkan. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan Ibnu Umar itu keduanya hanya sekedar melewati jalan tersebut tanpa ada niatan mendengarkan nyanyian, begitu juga apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar dan Nafi’. 
Baca Lengkap Gan..

postheadericon TERNYATA SHALATNYA ORANG YANG TELPON2AN/SMSAN MA LAWAN JENIS BISA GA DI TERIMA LHOO


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan segala nikmat ini sehingga masih bisa berbagi ilmu dengan antum wa antunna. Shalawat serta salam tak lupa kami haturkan atas junjungan Alam Nabi besar Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam,dan juga para sahabat dan keluarga beliau yang selalu ada untuk beliau.



Terlihat sedikit mengejutkan jika dilihat dari judul tulisan ini, tapi beginilah upaya kami untuk memberikan nasihat bagi kita semua bahwa ada yang hal yang sangat penting yang mungkin kita semua meremehkannya.

Tulisan ini adalah tindak lanjut dari status-status kami yang banyak menyinggung problematika asmara yang terjadi antar pemuda/i saat ini. Khususnya interaksi di antara mereka baik via telpon maupun sms.

Tidak sedikit di antara mereka yang menjalin kasih secara terang-terangan(pacaran) maupun sembunyi-sembunyi karena takut di bilang pacaran dan banyak alasan lainnya. Bisa karena orang shalih yang terperangkap penyakit asmara maupun anak culun yang baru tau yang namanya cinta.



Inilah nasihat dari kami sebagai bentuk ingkar mungkar bagi kemaksiatan yang terus-menerus dilakukan oleh banyak orang saat ini,karena kewajiban bagi setiap muslim untuk ingkar mungkar terhadap suatu kemaksiatan di atas muka bumi ini apabila tidak ada yang ingkar mungkar sebelumnya.



“Telah dilaknati oran-orang kafir dai Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”[QS.al maidah:78-79]

Baiklah kita mulai saja ke inti pembicaraan kita.



Mengenal apa itu Madzi

Bagi yang suka telpon-telponan ma smsan akan sangat sering mendapatkan hal ini, yaitu madzi. Ketika seseorang telah masuk ke dalam perbincangan langsung maupun via perantara dengan lawan jenisnya, kemudian di pembicaraan tersebut telah mulai mengundang syahwat maka di sinilah penyebab bisa tidak diterimanya shalat seseorang itu.

Madzi adalah cairan tipis dan putih yang berbentuk lendir, keluar dari (maaf) kemaluan disebabkan karena syahwat yang sedang bergejolak, tapi tidak keluar dengan syahwat(sebagaimana mani yang keluar dengan syahwat dan memancar) sehingga terkadang tidak diketahui kapan keluarnya. Bisa akibat menghayal yang jorok, berkata-kata mesra ke lawan jenis, di awal hubungan intim suami istri dan sebagainya yang dapat membangkitkan syahwat. Dan orang yang suka telpon-telponan dan smsan lebih mengetahui akan hal ini.



Hukum dari Madzi

Madzi statusnya adalah najis berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Saya adalah seorang pria yang sering mengeluarkan madzi. Karena itu saya pun menyuruh Miqdad menenyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda, cukup berwudhu saja!” (H.R Bukhari)



Maksudnya adalah untuk mensucikan diri itu adalah dengan berwudhu sehingga hokum dari madzi adalah najis yang dapat membatalkan wudhu.



Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan beliau untuk mencuci zakar dan buah pelir lalu berwudhu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu ‘Uwanah dalam Al-Mustakhrij.



Dalam kitab At-Talkhis Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Sanad hadits ini bersih tidak ada cacatnya. Oleh sebab itu, madzi statusnya najis wajib mencuci zakar dan buah pelir karena mengeluarkannya serta membatalkan wudhu.”

Bagaiman dengan pakaiannya? “Dianjurkan agar mengerik mani yang melekat pada pakaian meski kita telah menyatakan bahwa mani itu suci. Namun tetap sah shalat dengan mengenakan pakaian yang terkena mani meskipun belum dikerik.” (Al-Mughni I/763)



Adapun madzi, maka cukuplah dengan memercikkan air pada pakaian yang terkena karena sangat menyulitkan bila harus dicuci. Dalilnya adalah riwayat Abu Dawud dalam Sunannya, dari Sahal bin Hanif radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Saya merasakan kesulitan yang sangat disebabkan sering mengeluarkan madzi, sehingga saya berulang kali mandi. Lalu saya tanyakan hal tersebut kepada Rasulullah. Beliau menjawab, “Cukup bagimu berwudhu!” Wahai Rasulullah, bagaimana dengan pakaian yang terkena madzi?” tanyaku lagi. “Cukup engkau ambil seciduk air lalu percikan pada bagian yang terkena madzi!” jawab beliau.



Apakah Madzi itu ada pada wanita?

Jawaban: Ia,terjadi juga pada wanita, dan bahkan lebih sering terjadi pada wanita. Lalu mengapa dari hadits di atas kebanyakan para sahabat yang bertanya? Jawabannya karena wanita sifatnya pemalu, sehingga segan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah. Setiap hukum yang dijelaskan oleh Rasulullah itu secara umum adalah sama antara laki-laki dengan perempuan hingga ada dalil jelas yang membedakan hukumnya.



Kenapa Bisa Tidak diterima Shalat orang2 yang suka Telponan/smsan?

Inilah jawabannya : Setelah penjelasan tentang tentang sifat madzi itu maka kita mendapatkan beberapa hal yaitu:

1. Madzi itu najis dan harus di sucikan baik pada kemaluan dan pakaian yang terkena

2. Madzi itu keluar sering tanpa di sadari



Dari point di atas maka ada hubungan yang erat antar tema kita. Madzi keluar tanpa disadari sehingga orang yang sedang mabuk asmara, bercakap-cakap via telpon/sms tidak menghiraukan kondisi pada dirinya apakah ia keluar madzi atau tidak. Akibatnya mereka sering lupa untuk membersihkan diri dan pakaiannya dari madzi tersebut, dan DALAM KONDISI TIDAK SUCI BAIK DIRI MAUPUN PAKAIANNYA IA DIRIKAN SHALAT,dan apa hasilnya? Ia shalat dalam keadaan najis. Dengan kata lain

SHALATNYA TIDAK SAH.



Inilah sedikit nasihat dan sekaligus peringatan bagi antum wa antunna yang masih berkecimpung di dunia telpon2an/smsan mesra ada ancama dosa besar di balik itu semua.

Setiap kedzaliman dan kemaksiatan yang diperbuat sebelum bertaubat maka akan menimbulkan musibah yang besar bagi dunia dan akhiratnya.



Wallahua’lam

Sumber :

1. Majalah Al-Furqan edisi 05 tahun ke 10 bab “Meredam kemungkaran jalan menuju kebahagiaan”

2. Rumaysho.com

3. mardee19.wordpress.com

4. Muslim.or.id



Hamudi bin Abdurrahman

Jakarta,2 Muharam 1432 H
Baca Lengkap Gan..

Jumat, 01 April 2011

postheadericon Kriteria Wanita Idaman #2


Kriteria keempat: Betah Tinggal di Rumah

Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).


Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”.[9]

Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”.[10]

Kriteria Kelima: Memiliki Sifat Malu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.”[11]

Kriteria ini juga semestinya ada pada wanita idaman. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS. Qashash: 23-24). Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!

Demikianlah kriteria wanita yang semestinya jadi idaman. Namun kriteria ini baru sebagian saja. Akan tetapi, kriteria ini semestinya yang dijadikan prioritas.

Intinya, jika seorang pria ingin mendapatkan wanita idaman, itu semua kembali pada dirinya. Ingatlah: ”Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”. Jadi, hendaklah seorang pria mengoreksi diri pula, sudahkah dia menjadi pria idaman, niscaya wanita yang ia idam-idamkan di atas insya Allah menjadi pendampingnya. Inilah kaedah umum yang mesti diperhatikan.

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu mendapatkan keberkahan dalam hidup ini.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.remajaislam.com

Dipublikasikan oleh http://salafiyunpad.wordpress.com/

[9]Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11/150.

[10] HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

[11] HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.
Baca Lengkap Gan..

Rabu, 30 Maret 2011

postheadericon Kriteria Wanita Idaman

Ibnu Abdirrahman 16 September 2010 jam 9:15
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Setelah sebelumnya kita mengkaji siapakah pria yang mesti dijauhi dan tidak dijadikan idaman maupun idola, maka untuk kesempatan kali ini kita spesial akan membahas wanita. Siapakah yang pantas menjadi wanita idaman? Bagaimana kriterianya? Ini sangat perlu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, sehingga si pria tidak salah dalam memilih. Begitu juga kriteria ini dimaksudkan agar si wanita bisa selalu introspeksi diri. Semoga bermanfaat.

Kriteria Pertama: Memiliki Agama yang Bagus

Inilah yang harus jadi kriteria pertama sebelum kriteria-kriteria lainnya. Tentu saja wanita idaman memiliki aqidah yang bagus, bukan malah aqidah yang salah jalan. Seorang wanita yang baik agamanya tentu saja tidak suka membaca ramalan-ramalan bintang seperti zodiak dan shio. Karena ini tentu saja menunjukkan rusaknya aqidah wanita tersebut. Membaca ramalan bintang sama halnya dengan mendatangi tukang ramal. Bahkan ini lebih parah dikarenakan tukang ramal sendiri yang datang ke rumahnya dan ia bawa melalui majalah yang memuat berbagai ramalan bintang setiap pekan atau setiap bulannya. Jika cuma sekedar membaca ramalan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBarangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya mengenai sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam.”[1] Jika sampai membenarkan ramalan tersebut, lebih parah lagi akibatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kufur pada Al Qur’an yang diturunkan pada Muhammad.”[2] katakan, “

Begitu pula ia paham tentang hukum-hukum Islam yang berkenaan dengan dirinya dan juga untuk mengurus keluarga nantinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan seorang pria untuk memilih perempuan yang baik agamanya. Beliau bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”.[3] Sebenarnya makna “taribat yadak”adalah

Inilah kriteria wanita idaman yang patut diperhatikan pertama kali –yaitu baiknya agama- sebelum kriteria lainnya, sebelum kecantikan, martabat dan harta.

Kriteria Kedua: Selalu Menjaga Aurat

Kriteria ini pun harus ada dan jadi pilihan. Namun sayangnya sebagian pria malah menginginkan wanita yang buka-buka aurat dan seksi. Benarlah, laki-laki yang jelek memang menginginkan wanita yang jelek pula.

Ingatlah, sangat bahaya jika seorang wanita yang berpakaian namun telanjang dijadikan pilihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”[4] Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah:

1. Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
2. Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang.[5]

Sedangkan aurat wanita yang wajib ditutupi adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.[6]

Kriteria Ketiga: Berbusana dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syar’i

Wanita yang menjadi idaman juga sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami sarikan dari berbagai dalil Al Qur’an dan As Sunnah.

Syarat pertama: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.

Syarat kedua: Bukan memakai pakaian untuk berhias diri.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[7]

Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.

Syarat keempat: Tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.”[8]

Inilah di antara beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang pantas dijadikan kriteria.

Bersambung Insya Allah

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.remajaislam.com

[1] HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.



[2] HR. Ahmad (2/492). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.



[3] HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1446, dari Abu Hurairah.



[4] HR. Muslim no. 2128, dari Abu Hurairah.



[5]Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/190-191, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua.



[6] Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14.



[7] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/133, Mawqi’ Al Islam.



[8] HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih.
Baca Lengkap Gan..

Paling Sering di Baca

Jumlah pengunjung

Chat Box