Laman

Selasa, 14 Februari 2012

postheadericon Koreksi terhadap buletin jumat al-ihsan[PERAYAAN MAULID NABI]

Bismillah.
Adalah menjadi kewajiban bagi setiap Muslim maupun Muslimah untuk menjaga agamnya dari segala macam fitnah,terutama fitnah Syubhat, fitnah yang dalam bentuk kesimpang siuran mengenai hukum sya'i yang ada dalam Agama Islam. Salah satu cara yang paling ampuh untuk selamat dari fitnah Syubhat adalah dengan bashirah, atau pengetahuan yang baik dan mendalam tentang Agama Islam iniSempat beredar sebuah buletin yang cukup mencengangkan isinya. Buletin ini disebarkan pada hari jumat kemarin tanggal 10 februari 2012.
Permasalahan yang diangkat sebenarnya adalah masalah lama yang sudah lama dijawab, tapi diangkat kembali untuk berusaha menggoyahkan pemahaman orang yang sudah mulai bagus pemahamannya mengenai Islam. Buletin ini mengangkat tema seperti judul yang Kami tuliskan di atas, yaitu tentang peryaan MAULID NABI.

Mungkin pada kesempatan kali ini kami akan mengulas kekeliruan isi penulisan buletin itu dari sisi sejara. Baiklah mari kita simak uraian berikut ini.

Dalam buletin tersebut diungkapkan bahwa
Sholahuddin al-Ayyubi adalah Pencetus Perayaan Maulid Nabi. Apakah benar demikian?


Pertama yang menjadi kekeliruan besar dari buletin tersebut adalah tidak mencantumkan sumber yang jelas sebagai bukti kebenaran pernyataan tersebut. Satu saja kitab tidak disebutkan,kitab yang tidak dinalpun tidak disebutkan lebih-lebih lagi kitab ulama yang terkenal seperti Fathul Bari atau Bidayah wan Nihayah karya al Hafiz Ibnu Katsir dan semisalnya. Padahal Allah telah mengingatkan kita dalam surat Al-Hijr:9
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya"
Dan Allah buktikan kebenaran-Nya dengan menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang terpelihara keotentikan sumber hukumnya yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah hingga akhir zaman melalui SANAD. Silakan klik link ini untuk membaca uraian lengkap tentang sanad

Sanad akan diterima jika sanad itu dapat dipercaya kebenarannya.

Kedua, yang menjadi kekeliruan berikutnya adalah tentang Sirah atau sejarah sebenarnya awal mula perayaan MAULID NABI yang dikait-kaitkan dengan Sultan Sholahuddin al-Ayyubi.
Mari kita simak penjelasan lengkap mengenai Asal usul perayaan MAULID NABI yang dikaitkan dengan beliau.

Para ulama ahli sejarah menyebutkan , bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah. Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali: “Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.” Hal ini dikatakan oleh al Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhoit al Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126.

Kemudian Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata: “Para kholifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib, maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az Zahro’, dan maulid kholifah. (Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup Ramadhon…” [al Mawa’izh:1/490]

Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja Ubaidiyyah di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H. Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan.

Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhoffar berkata: Dia merayakan maulid nabi pada bulan Robi’ul Awal dengan amat mewah. As Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…”
Imam Ibnu Katsir juga berkata:
“Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka.

Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [Penjelasan di atas diambil dari situs http://alqiyamah.wordpress.com]

Dari penjelasan di atas maka sangatlah jauh isi buletin itu dari kebenaran. Pada awal penulisan si penulis menjelaskan tentang kontra dari tulisan di buletin itu yaitu tentang pelarangan perayaan maulid nabi. Terkesan begitu berilmu dan pantas untuk dibaca, tapi sangat disayangkan sekali sanggahan-sanggahan yang diluncurkan tidak memiliki dalil yang kuat satu pun.

Wallaahua'lam,.Demikian uraian singkat kami untuk mengoreksi isi dari buletin al-ihsan. Koreksi dari sisi pendalilan oleh penulis akan kami publish segera.

link ke pembahasan selanjutnya :http://www.facebook.com/note.php?saved&¬e_id=10151268662185858

11 Februari 2012
Hamudi bin Abdirrahman
Jakarta Timur,
Share

0 komentar:

Paling Sering di Baca

Jumlah pengunjung

Chat Box