Laman

Rabu, 06 April 2011

postheadericon LARI DARI KENYATAAN



Penulis :dr.Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair,SpJP

Seorang pemuda berusia tujuhbelas tahun terkena tembakan peluru nyasar, maka kedua orangtuanya segera membawanya ke Rumah Sakit Angkatan Bersenjata di Riyadh.

Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, pemuda itu memandang wajah ibunya yang sedang menangis sedih seraya berkata, “Wahai ibunda ,janganlah engkau bersedih, demi Allah aku dalam keadaan baik, sesungguhnya aku akan meninggal, demi Allah aku mencium semerbak wangi surga”

Setibanya di ruang gawat darurat , seorang dokter berusaha untuk menanganinya, akan tetapi pemuda itu berkata, “Wahai saudaraku !Sungguh aku akan mati,aku telah mencium semerbak wangi surga, karena itu janganlah engkau merepotkan dirimu, aku hanya menginginkan kehadiran ayah dan ibuku di sisiku”

Setelah kedua orangtuanya berada di sisinya, pemuda itu menyampaikan selamat tinggal kepada keduanya untuk selamanya, lalu melantunkan syahadat,”Asyhadu Alla Ilaaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah”

Ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan jari telunjuk tangan kanan menunjuk, sebagaimana yang sedang membaca tasyahud dalam shalat.

Setelah shalat Maghrib, saya menemui saudara Dhiya’ seorang pegawai yang bertugas memandikan jenazah di Rumah sakit Angkatan Bersenjata di Riyadh, ia menceritakan kejadian tersebut dan meyakinkan bahwa dirinyalah yang membuka genggaman tangan pemuda tersebut.

Ia mendapati jenazah pemuda dalam keadaan segar bugar, suatu keajaiban yang belum pernah ia jumpai sebelumnya.

Saat orang tuanya ditanya mengenai kehidupan pemuda tersebut, mereka menerangkan ,”Almarhum sejak memasuki umur akil baligh adalah orang yang selalu membangunkan kami untuk menunaikan shalat Subuh, ia sangat tekun menunaikan shalat malam dan membaca Al-Qur’an , selalu berusaha untuk mengikuti shalat wajib berjamaah di masjid, ia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dalam setiap pelajarannya, ia termasuk peraih rangking atas di kelas dua SMA.”

Kemudian saya menceritakan kisah ini kepada seorang dokter ahli bedah jantung yang lainnya. Tiba-tiba dokter itu mengajukan cuti selama satu minggu tanpa ada sebab dan alasan yang mendesak ,"Aku ingin berintrospeksi (muhasabah), apalah artinya diriku ini jika dibandingkan dengan seorang pemuda yang penuh dengan kebaikan tersebut.

Kemudian saya menghubungi dokter ahli bedah jantung yang lainnya yang bekerja di Jeddah, ia pun tidak kuasa menahan perasaannya lalu menangis terharu.

Saya sangat berbahagia menyaksikan perubahan pada kedua dokter tersebut,kenapa?
Karena kedua dokter itu merasa iri kepada pemuda tersebut atas kemuliaannya dengan amal ibadah ukhrawinya, bukan karena harta benda yang telah dikumpulkannya, ini merupakan fenomena yang menyejukkan.

Akan tetapi sayangnya orang-orang pada zaman sekarang banyak yang terlena dan larut dalam berlomba-lomba untuk mengumpulkan kemewahan dunia, padahal bagi Allah Ta’ala,dunia ini tidak lebih berharga dari pada sayap seekor nyamuk.

Sebuah pertanyaan yang perlu untuk dijawab,”Masih adakah orang yang mau berlomba-lomba bersama saudara-saudaranya dalam beramal saleh?”

Masih adakah orang yang apabila melihat saudaranya duduk sambil memegang mushaf setelah memunaikan shalat Ashar lalu membacanya, ia tertegun seraya bertanya kepada dirinya sendiri,”Kenapa aku tidak ikut serta duduk dan membaca Al-Qur’an sebagaimana yang ia lakukan?”Segera orang itu duduk mengambil Al-Qur’an dan membaca sepuasnya.

Masih adakah di antara kita ketika melihat tetangganya atau kerabatnya bangun di malam hari untuk menunaikan shalat malam ia merasa iri, lalu bertanya kepada diri sendiri , “Kenapa ia bangun untuk menunaikan shalat malam sedangkan aku tidak?Betulkan aku mengharapkan surga sebagaimana ia mengharapkannya? Betulkan aku memimpikan apa yang ia mimpikan?”Kemudian ia beranjak untuk menunaikan shalat malam walaupun sebentar.

Lalu timbul pertanyaan yang lain,”Berapa banyakkah umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang selalu menjaga shalat malamnya pada masa-masa sekarang ini?” Sungguh sangat sedikit, sungguh sayang sekali.

Kemudian aku (Hamudi) berkata :”Tidakkah kalian bisa mengambil pelajaran dari kisah nyata ini? Sungguh hati kalian sedang sakit ketika jika hati kalian tidak bergetar membaca kisah ini karena hanya hati yang selamatlah yang bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah orang yang shalih, Wallahua’lam”

[Dikutip dari buku Musyahaahadaat Thabiib Qashash Waqi’iyyah karya dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair,SpJP, dengan edisi Indonesia “KESAKSIAN SEORANG DOKTER mensucikan hati dengan kisah-kisah nyata”,Darus Sunnah,Jakarta Timur]

 Wallahua'lam
Share

0 komentar:

Paling Sering di Baca

Jumlah pengunjung

Chat Box