Laman

Jumat, 15 April 2011

postheadericon [PENTING]APAKAH ITU WARA’ DAN BAGAIMANAKAH KONSEKUENSINYA?

Sikap wara’ dalam mencari rezeki dan kehidupan sudah jarang disebut dan diperhatikan kaum muslimin. Kita lihat kaum muslimin sangat menggampangkan masalah ini sehingga terjerumus dalam perbuatan tercela dalam memenuhi kebutuhannya. Riba, dusta, menipu dan perbuatan haram lainnya dilakukan tanpa merasa berdosa hanya untuk dalih memenuhi kebutuhan hidup. Dan ada pula yang lebih sangat menyedihkan yang ada dikalangan pemuda pada umumnya,dimana mereka memiliki giroh yang besar untuk dapat berperan penting dalam memperjuangkan Islam, tapi sayangnya dengan keterbatas ilmu merekapun mengambil jalan yang salah sehingga bukan saja menghinakan dirinya tapi juga dapat mencoreng Islam sebagai agama satu-satunya yang diridhoi Allah ‘Azawajalla. Mereka melupakan sifat wara’ yang menjadi sifat yang mulia yang dapat menjaga kehormatan kaum muslimin dan kehormatan agama Islam.

Apa Haketkat Wara’?

Para ulama memberi memberikan definisi wara’ dengan beberapa ungkapan, diantaranya:

Wara’ adalah meniggalkan semua yang meragukan dirimu dan menghilangkan semua yang membuat jelk dirimu dan mengambil yang lebih baik
Wara’ adalah ibarat dari tidak tergesa-gesa dalam mengambil barang-barang keduniaan atau meninggalkan yang diperbolehkan karean khawatir terjerumus dalam perkara yang dilarang.

Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menggambarkan sikap wara’ ini dengan ungkapan , “Sikap hati-hati dari terjerumus dalam perkara yang berakibat bahaya yaitu yang jelas pengharaman dan yang masih diragukan keharamannya. Dalam meninggalkan perkara tersebut tidak ada mafsadat(kerugian/keburukan) yang lebih besar dari mengerjakannya.”(Majmu’’ Fatawa 10/511)



Hal ini disimpulkan secara ringkas oleh murid beliau imam ibnu al-Qayim rahimahullah dengan ungkapan, “wara’ adalah meninggalkan semua yang dikhawatirkan merugikan akhiratnya.”(al-Fawaaid hlm 18)



Dari penjelasan di atas mari kita koreksi diri kita, kita koreksi segala jenis amalan kita apakah kita telah menerapkan sifat wara’ ini ?apakah ketika kita berada di kantor ataupun di sekolah/kampus kita berhati-hati dari setiap perkara dunia yang bisa menjerumuskan kita keperbuatan yang dilarang?Contohnya, saat seseorang di kantor, bagaimana ia bersikap dengan peralatan kantor yang diberikan kepadanya untuk melaksanakan tugas-tugasnya,apakah ia berhati-hati dalam menggunakannya, atau apakah ia menggunakan peralatan kantor untuk kepentingan pribadinya,semisal menggunakan telpon kantor untuk menelepon anak,atau istrinya.



Kemudian contoh saat di kampus, bagaimana ia berhati-hati bergaul dengan teman-temannya,apakah ia mudah bergaul dengan siapapun tanpa memperhatikan dampaknya apabila ia tidak menyeleksi kawan-kawannya?bagaimanakah kehati-hatiannya dalam memanage lisannya meskipun hukum berbiara adalah mubah. Tapi apabila ia tidak mengaturnya dengan bijak maka lisannya bisa setajam pedang yang bisa membuat sebuah bencana besar di suatu negeri, sehingga iapun jatuh kedalam perkara yang haram.

Ciri dan Urgensi sikap Wara’

Ciri mendasar pada seseorang yang bersikap wara’ adalah kemampuannya meninggalkan sesuatu yang hanya semata-mata ada keraguan atau syubhat, seperti yang dikatakan oleh al-Khaththabi rahimahullah , “Semua yang engkau merasa ragu padanya, maka sifat wara’ adalah menjauhinya.”[Fath al-bari 4/293 , dari syarah bab ke-3 , dari kitab Buyu’]

Imam al-Bukhari rahimahullah mengutip perkataan Hasan bin Abu Sinan rahimahullah, “Tidak ada sesuatu yang lebih mudah dari pada sifat wara’:’Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.’”[Shahih Bukhori ]Sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam , beliau bersabda,

“Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tenteram kepadanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang jiwa tidak merasa tenang dan hati tidak merasa tenteram kepadanya, sekalipun orang-orang memberikan berbagai komentar kepadamu.”



Dan yang memperkuat hal itu adalah atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir rahimahullah secara mursal,”Sesuatu yang diingkari hatimu, maka tinggalkanlah”[Shahih al-Jami’ no. 5564]

Sebagaimana wara’ mencakup semua hal baik yang berhubungan dengan usaha dan hubungan mu’amalah bahkan dakwah, juga mencakup lisan dan perbuatan lainnya. Lihat kebanyakan orang tergesa-gesa memberi fatwa tanpa ilmu merupakan sikap yang bertentangan dengan sikap wara’ , dan yang lebih mengerikan lagi adalah para pemuda saat ini yang dianugerahi giroh yang besar dalam berdakwah, tapi sayangnya mereka serampangan dalam menempuh jalan dakwa. Niat yang baik mereka bangun untuk menegakkan dan menebarkan sunnah ternyata tiada artinya setelah jalan dakwah yang mereka tempuh itu keliru. Karena semangat mereka yang tinggi untuk memperjuangkan sunnah akhirnya lupa untuk bersikap wara’, mereka tidak berpikir panjang akibatnya kepada orang lain apabila mereka menempuh jalan tersebut, mereka hanya berpatokan untuk ingin mengenalkan sunnah kepada orang lain dan mengajak orang lain kepada sunnah tapi mereka tidak mengingat bahwa ada sikap wara’ dalam berdakwah,.



Para sangat menekankan untuk bersikap wara’ terutama dalam ucapan sebagaimana yang dikatakan oleh Ishaq bin Khalaf rahimahullah “Wara’ dalam tuturan kata lebih utama daripada emas dan perak…”[Tahdzib Madarijus salikin hal .290]



Coba kita telaah lagi kalimat indah di atas,dan kita bandingkan dengan apa yang terjadi pada saat ini terutama para pemuda. Merka ketika berhadapan dengan suatu forum diskusi bukannya ilmu yang diutarakan tapi hinaan dan pelecehanlah yang terlontar, sehingga tidak jarang dari kaum Muslimin yang lari dari hidayah karena ucapan yang menyakitkan.Padahal kita mengenal mereka sebagai pejuang dakwah Sunnah yang mengemban dakwah yang penuh kasih sayang ini.



Insya Allah bersambung di tulisan berikutnya,



Hamudi bin Abdirrahman

Jakarta, 13 April 2011



Sumber tulisan : Majalah el-Fata Edisi 11 dan 12 volume 10, hlm.62 dengan sedikit tambahan dari kami.
Share

0 komentar:

Paling Sering di Baca

Jumlah pengunjung

Chat Box